Ami Alhasani Jika menginginkan dunia raihlah dengan ilmu, Jika menginginkan akhirat raihlah dengan ilmu, jika ingin keduanya raihlah dengan ilmu

Hasil Kebudayaan Mesolitikum

2 min read

Hasil Kebudayaan Mesolitikum

Zaman Batu Pertengahan atau juga disebut Mesolitikum , yang terjadi di masa Holosen atau Holocene. Pada zaman Mesolitikum, ada pengaruh budaya dari daratan Asia, yaitu budaya Bachson-Hoabinh. Lebih lengkapnya simaklah pembahasan kami mengenai Materi Hasil Kebudayaan Mesolitikum Lengkap dengan Penjelasannya di bawah ini.

Hasil Kebudayaan Mesolitikum

Hasil Kebudayaan Mesolitikum
Hasil Kebudayaan Mesolitikum

Zaman Batu Pertengahan atau juga disebut Mesolitikum , yang terjadi di masa Holosen atau Holocene. Pada zaman Mesolitikum, ada pengaruh budaya dari daratan Asia, yaitu budaya Bachson-Hoabinh.

Alat yang digunakan masih sama seperti di Paleolitikum. Ada beberapa kekhasan di Zaman Mesolitikum / Batu Tengah seperti :

  1. Masyarakat dapat memproduksi gabah dari proses pembakaran tanah liat.
  2. Keberadaan kjokkenmoddinger, yaitu sampah dapur yang berasal sisa makanan kulit kerang. Kjokkenmoddinger di Indonesia dapat ditemukan di daerah sepanjang pantai Sumatra.
  3. Keberadaan abris sous roche, tempat tinggal manusia purba dalam bentuk gua. Temuannya dapat dilihat di daerah pedalaman Jawa, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi.

Budaya Mesolitik sesuai dengan sebaran lokasi/tempatnya dapat dibagi menjadi seperti berikut ini :

Baca Juga : Ciri-Ciri Meganthropus Paleojavanicus

1. Budaya Kapak Sumatra (Pebble Culture)

Penelitian tentang kapak Sumatra dimulai dengan penggalian yang dilakukan oleh P.V. van Callenfels pada tahun 1925 di sepanjang pantai timur laut Sumatera antara Langsa (Aceh) dan Medan.

Hasilnya menunjukkan setumpuk cangkang kerang yang telah menjadi fosil yang tingginya mencapai tujuh meter dan kemudian disebut atau di namakan kjokkenmoddinger.

Terlepas dari penemuan limbah dapur, hasil penggalian adalah penemuan alat manusia purba dalam bentuk kapak Sumatra, alu, pisau batu, lesung dan batu penggiling.

Dinamakan kapak sumatera, karena hanya ditemukan di Pulau Sumatra dan memiliki bentuk kapak selain yang ditemukan di Pacitan.

Selain kapak Sumatra, kapak yang lebih pendek dari jenis ini disebut Hache Courte. Kapak pendek dibuat dengan mematahkan batu di dua sisi lengkungannya.

Budaya Kapak Sumatera diperkirakan akan berdampak pada budaya Bachson-Hoabinhyang, yang menyebar melalui jalur darat ke wilayah Indonesia dan berfokus pada Teluk Tongkin, Indocina (Vietnam, Kamboja dan Laos).

Orang-orang yang mendukung kapak Sumatra adalah golongan manusia dari ras melanosoid, sebagaimana dibuktikan oleh penemuan fosil papua melanosoid manusia di Sumatra timur.

Ada juga alat-alat batu lainnya dalam bentuk pipisan (penggiling serta landasannya).

Fungsi alat pipisan adalah untuk menghaluskan bahan cat warna merah yang biasa digunakan dalam sistem kepercayaan dan keyakinan masyarakat Mesolitikum.

Bahan cat yang sudah di haluskan, biasanya digunakan untuk di balurkan pada tubuh, yang diyakini dapat meningkatkan kekuatan fisik.

2. Budaya Tulang Sampung (Budaya Bone)

Kebudayaan tulang Sampung adalah penemuan alat yang berasal dari tulang yang biasa ditemukan di daerah Sampung.

Penemuan ini didasarkan pada hasil penelitian oleh van Stein Callenfels dari tahun 1928 – 1931 di Gua Lawa, Sampung, Jawa Timur.

Alat tersebut terdiri atas mata panah dan flake/ serpih, batu penggiling, alat dari tulang, dan tanduk rusa. Selain di daerah Sampung, ada juga fosil yang ditemukan di daerah Besuki.

Orang-orang yang diduga sebagai pengikut/pendukung budaya Tulang-Sampung adalah ras Papua Melanosoid.

Hal ini didukung oleh penemuan fosil manusia jenis ras Papua Melanosoid di daerah di mana budaya Tulang-Sampung ditemukan.

3. Kebudayaan Toala (Flake Cultur)

Budaya Toala dicirikan oleh alat yang digunakan dalam bentuk serpih bergerigi.

Istilah flake ultur pertama kali disebutkan oleh seorang arkeolog bernama Alfred Bühler karena banyaknya penemuan serpihan di daerah suku Toala, Lumacong, Sulawesi Selatan.

Sebelumnya, Fritz Sarasin dan Paul Sarasin melakukan penelitian di daerah Lumacong pada tahun 1893-1896, di mana mereka menemukan serpihan, panah bergerigi dan peralatan tulang di sekitar gua (abris sous roche) di mana gua-gua itu merupakan tempat tinggal suku bangsa Toala.

Penelitian lebih lanjut oleh van Stein Callenfels (1933-1934) dan van Heekeren (1937) sampai pada kesimpulan bahwa budaya Toala termasuk dalam budaya Mesolitik, yaitu sekitar 3000-1000 SM.

Ada juga penelitian di daerah Maros, Bone dan Bantaeng di Sulawesi Selatan, yang telah menghasilkan temuan dalam bentuk alat serpih, batu penggiling, gerabah & kapak Sumatra.

Flake bergigi juga ditemukan di gua-gua di pulau Flores dan Roti di Nusa Tenggara timur. Sedangkan flake yang ditemukan di wilayah Bandung terdiri dari batu hitam (obsidian).

Apa itu zaman Mesolitikum?


Mesolitikum juga disebut sebagai zaman batu tengah / zama batu madya, diperkirakan terjadi pada masa Holosen (10.000 tahun lalu). Perkembangan budaya di zaman ini sudah lebih cepat dari sebelumnya. Ini disebabkan antara lain :

1. Keadaan alam yang lebih stabil yang memungkinkan manusia untuk hidup lebih tenang sehingga mereka dapat mengembangkan budaya mereka
2. Manusia pendukungnya adalah tipe Homo sapiens, makhluk yang lebih pintar dari para pendahulunya.

Bagaimana kehidupan sosial zaman Mesolitikum?


Beberapa dari mereka sudah mulai menetap dalam kelompok / individu di dalam gua dan mulai berococok tanam dengan sederhana.

Mereka menanam tanaman dengan cara yang sangat sederhana dan nomaden sesuai dengan kesuburan tanah.

Yang mereka tanam adalah umbi. Mereka juga mulai belajar menjinakkan hewan untuk berkembang biak. Pada saat ini mereka saling membutuhkan dan saling membantu.

Bagaimana dengan keperayaan Mesolitikum?


Masyarakat Mesolitikum di Indonesia telah mulai mengakui kepercayaan dan penguburan mayat.

Lukisan/ gambar manusia di pulau Seram dan Papua adalah gambar leluhur dan dianggap sebagai pertahanan terhadap roh jahat dengan kekuatan magis.

Demikian pula, gambar kadal di wilayah tersebut dianggap sebagai perwujudan leluhur atau kepala suku sebagai simbol kekuatan magis.
Penyembahan binatang yang diyakini memiliki kekuatan magis disebut totemisme.

Demikianlah pembahasan kami mengenai Materi Hasil Kebudayaan Mesolitikum. Baca juga Pithecanthropus Erectus. Semoga bermanfaat.

Ami Alhasani Jika menginginkan dunia raihlah dengan ilmu, Jika menginginkan akhirat raihlah dengan ilmu, jika ingin keduanya raihlah dengan ilmu
Hasil Kebudayaan Mesolitikum Rating: 5 Diposkan Oleh: Pembaca

Iklim Junghuhn

Ami Alhasani
3 min read

Klasifikasi Awan

Ami Alhasani
2 min read