Kondisi Kepercayaan Masyarakat Mekkah Sebelum Islam

3 min read

Rumusguru.com – Kondisi Kepercayaan Masyarakat Mekkah Sebelum Islam merupakan situasi dimana pada saat itu Agama Islam belum masuk. Jauh sebelum itu, diketahui mereka menyembah Berhala atau dengan kata lain masa Jahiliyah.

Bagaimanakah Kondisi Kepercayaan Masyarakat Mekkah Sebelum Islam? Simak ulasan lengkapnya berikut ini.

Review

 

 

Orang-orang Mekah awalnya adalah penganut agama yang datang bersama Nabi Ibrahim As. Dia kemudian mewariskan kepada putranya Nabi Ismail As. Jalan kehidupan Nabi Ibrahim As, bersama dengan istrinya Siti Hawa dan putranya Nabi Ismail As melahirkan sejumlah hukum dan adat istiadat Islam yang masih dilestarikan.

Selain itu, umat Islam meniru dan mengamalkan ritual haji pada masa Nabi Ibrahim As tersebut. Ketika misi terputus setelah Nabi Ismail As, orang-orang Makkah mulai menyembah selain Allah SWT. Proses dimulai oleh Amir bin Lubai, seorang pemimpin Huza’ah yang kemudian pergi ke syam (syir’ah).

Saat itu dia melihat penduduk kota Syam menyembah berhala saat mereka beribadah, dia tertarik untuk belajar dan mengamalkan di Mekah, akhirnya dia membawa berhala bernama Hubal dan menempatkannya di Ka’bah.

Dengan hadirnya berhala Hubal yang kmeudian menjadi pemimpin berhala lainnya seperti latta, manat, dan uzza. Dia mengajari orang Mekah bagaimana menyembah berhala, sehingga orang percaya bahwa berhala adalah perantara yang dekat dengan tuhan mereka.

Sejak itu, mereka mulai membuat patung hingga mencapai 360 patung yang mengelilingi Kakbah. Sejak saat itu sebuah keyakinan baru diperkenalkan ke tanah Mekah, dan kota Mekah telah menjadi pusat penyembahan berhala dan dikenal sebagai masa Jahiliyah.

Mereka menyembah berhala dan tidak mengenal Tuhan, Allah SWT serta mereka menipu. Orang Arab pra-Islam hidup pada zaman Jahiliyyah, ketika mereka tidak mengenal agama yang membuat moral mereka tidak karuan.

Agama yang dianut Penduduk Arab pra-Islam adalah Pagan, Yahudi, dan Kristen. Agama pagan menjadi agama dominan mereka. Ratusan berhala didirikan di sekitar Ka’bah untuk berdoa.

Mereka menolak dan melawan Islam saat Islam datang, ikni disebabkan keyakinan mereka pada berhala sangat kuat. Kecintaan mereka pada kebebasan membuat mereka ingin melanggar aturan agama karena agama dianggap sebagai ikatan kebebasan.

Kondisi saat itu sangat tidak terkendali karena tidak ada hukum yang memaksa mereka, itulah sebabnya mereka melakukan apa yang diinginkan tanpa aturan. Mereka melakukan hal-hal yang buruk, mulai dari berjudi, memarahi anak-anaknya, menyumpahi gadis-gadis yang masih hidup serta mengumpat dan mengkritik orang miskin dan lemah.

Sejarah Penyembahan Berhala

Sepeninggal Nabi Ismail As, Kondisi Kepercayaan Masyarakat Mekkah Sebelum Islam berangsur-angsur berpindah ke penyembahan berhala. Sejak kepergian pemimpin Khuza’ah Amir bin Lubay Al-Khuza’i ke Suriah. Dia adalah orang pertama yang membuat aturan ini tentang bahirah, saaibah, washiilah dan ham.

Bahirah adalah unta betina yang susunya tidak boleh disusui oleh siapa pun, karena ia mengabdikan dirinya untuk penyembahan berhala. Saaibah adalah unta yang dibiarkan bebas karena berhala dan tidak ada yang diizinkan untuk menggunakannya.

Wasilah adalah unta betina yang dilahirkan ibunya sebagai anak pertama. Kemudian anak kedua adalah unta perempuan. Itu dijadikan saaibah unta yang diobebaskan untuk berhala.

Ham adalah unta jantan yang mengawini  beberapa unta betina sesuai target. Jika unta berkinerja baik, maka akan dibebaskan. Mereka memanggilnya unta Hamiy.

Berhala Amir bin Lubay yang pertama dan terbesar adalah Hubal atau yang berarti dewi bulan yang didirikan di Ka’bah. Amir bin Lubay memerintahkan orang-orang yang pergi untuk  patung berhala tersebut.

Kondisi Sosial Masyarakat Mekkah Sebelum Islam

Orang Arab, terutama yang tinggal di Mekah atau disebut dengan suku Quraish, memiliki kualitas yang mengagumkan seperti keberanian, ingatan yang kuat, kemurahan hati, kebaikan, ketajaman bisnis, perlindungan yang lemah dan sebagainya. Orang-orang Arab memulyakan suku Quraisy karena mereka menjaga Ka’bah dan menyambut orang-orang yang datang mengunjungi Baitullah.

Namun keutamaan kaum Quraisy dipadukan dengan praktek-praktek kasar seperti meminum khamr, perzinahan, perjudian, mencuri dan yang terburuk ialah membunuh anak perempuan mereka dengan mengubur hidup-hidup karena mereka malu dan percaya bahwa anak perempuan hanya membawa masalah.

Hanya sebagian kecil suku Quraisy yang tidak melakukannya. Tindakan memalukan lainnya adalah perbudakan seseorang yang menindas orang lain, bahkan menganggap budak itu sebagai sesuatu untuk dijual dan dibunuh.

Kondisi Ekonomi Masyarakat Mekkah Sebelum Islam

Orang Mekah hidup sebagai pedagang, petani dan gembala. Orang Arab memiliki pusat perbelanjaan terkenal, termasuk pasar Ukaz, Mijannah dan Zul Majaz. Pasar tidak hanya menjadi tempat jual beli, tetapi juga tempat bagi penyair, pembicara, dan pejuang. Selain perdagangan, pertanian dan peternakan memegang peranan penting dalam perekonomian masyarakat Mekkah.

Kondisi Politik Masyarakat Mekkah Sebelum Islam

1. Masyarak Arab terbagi menjadi 2, yaitu:

  1. Al-hadharah atau penduduk kota yang tinggal di perniagaan seperti Makkah dan Madinah. Mereka menetap dengan membuat rumah permanen, memiliki kebudayaan juga berpendidikan, meskipun tidak semua. Mata pencaharian mereka adalah bertani, berternak, dan berdagang.
  2. Baduwi atau penduduk pedalaman yang tinggal berpindah-pindah, tidak memiliki tempat tetap. Mata pencaharian mereka adalah peternak unta serta domba.

2. Tiga Pengaruh Politik

  1. Romawi Timur atau disebut dengan Kekaisaran Nasrani Bizantium yang berpusat di Konstantinopel.
  2. Berpusat di Al-Mada’in disebut dengan Kekaisaran Zoroaster. Dibawah kekuasaan Dinasti Sassanid atau Sassan.
  3. Kerajaan Homerit atau Kerajaan Himyar adalah sebuah kerajaan di Yaman pada masa kuno pada tahun 110 SM beribu kota di Zafar. Kemudian dipindah ke wilayah Sana’a pada abad ke-4.

3. Kerajaan Lainnya Adalah:

  1. Kerajaan Himyar,
  2. Keranaan Hirah,
  3. Kerajaan Ghassan,
  4. Kerajaan Hijaz.
  5. Kerajaan Kindah,
  6. Kerajaan Ma’in,
  7. Kerajaan Qathban,
  8. Kerajaan Saba’.

Politik dunia Arab yang selalu berseberangan dengan perebutan kekuasaan antar suku Arab, di samping persatuan, menjadi semakin sulit akibat persaingan agama. Dari sini, tidak salah jika dikatakan bahwa Arab pada masa itu sedang dalam kekacauan. Transformasi peta ekonomi menjadi Roma di bagian selatan Arabia berdampak besar pada jatuhnya Kerajaan Himyar.

Arab Selatan adalah pemimpin dunia dalam produksi rempah-rempah yang digunakan dalam upacara keagamaan di Graeko Romawi dan sebagai tanaman obat. Ini merupakan daya tarik utama bagi sektor ekonomi di Arab Selatan.

Dari sini dapat dilihat bahwa sebelum terjadinya krisis ekonomi dunia Arab sebelum kedatangan kaum Muslimin mereka adalah pedagang. Konteks budaya di Arab terlihat dari adat istiadat dan penampilan masyarakat yang terbilag keras akibat iklim yang gersang.

Kebudayaan Arab yang bermigrasi juga karena lokasinya. Kekuatan emosional dan fisik sangat penting untuk melindungi diri sendiri dari bahaya. Orang Arab tidak terpengaruh oleh budaya dan pengaruh asing karena keengganan mereka ke luar negeri karena kekeringan di daerah mereka.

Akhir Kata

Demikianlah pembahasan mengenai Kondisi Kepercayaan Masyarakat Mekkah Sebelum Islam. Jangan lupa untuk terus mengikuti artikel menarik kami lainya di https://rumusguru.com/. Semoga bermanfaat dan sampai jumpa lagi.

 

Artikel Menarik Lainnya:

Kondisi Kepercayaan Masyarakat Mekkah Sebelum Islam Rating: 5 Diposkan Oleh: Pembaca

Iklim Junghuhn

Ami Alhasani
3 min read

Klasifikasi Awan

Ami Alhasani
2 min read