Peninggalan Kerajaan Demak

6 min read

Peninggalan Kerajaan Demak

Rumusguru.com – Peninggalan Kerajaan Demak adalah berbagai situs atau cagar budaya berupa bangunan dan peralatan yang ditinggalkan Kerajaan Demak. Peniggalan tersebut hingga saat ini masih terawat dan tersimpan dengan rapi.

Diketahui dari berbagai sumber yang mengatakan bahwa Kerajaan Demak merupakan satu dari sekian banyak Kerajaan yang Besar pada Zamannya. Selain itu Kerjaan yang berdiri di abad ke 15 setelah runtuhnya Kerajaan Majapahit ini juga sangat berpengaruh terhadap penyebaran Islam di Nusantara.

Apa sajakah Peninggalan Kerajaan Demak yang masih terawat hingga kini? Sebelum melanjutkan pembahasan, ada baiknya Anda simak terlebih dahulu sejarah dari Kerajaan Demak yang akan kami ulas berikut:

 

Sejarah Berdirinya Kerajaan Demak

Kerajaaan demak merupakan salah satu Kerajaan yang berdiri setelah runtuhnya kejayaan Majapahit. Awalnya kerajaan ini hanya merupakan kadipaten yang menjadi bagian dari Kerajaan Majapahit pada masanya.

Raden patah yang disebut sebagai seorang pendiri pertama dari Kerajaan Demak yang merupakan anak terakhir dari Raja Majapahit yaitu Prabu Brawijaya. Baru setelah meninggalnya Raden Patah ditahun  1518 kepemimpinannya diteruskan oleh putranya yaitu Pati Unus.

Dibawah kepemimpinan Pati Unus, Kerajaan Demak memiliki armada maritim yang begitu kuat. Karena pada saat itu Portugis banyak memonopoli perdagangan diwilayah Demak. Sebagai perlawanan maka sempat terjadi beberapa kali peperangan antara Demak dan Portugis diselat Malaka.

Tak sampai disitu, kejayaan Kerajaan Demak terus berlangsung hingga wafatnya Pati Unus dan dilanjutkan kepemimpinannya oleh Sultan Trenggono ditahun 1521 hingga 1546. Dibawah kepemimpinannya Demak mencapai kejayaan dengan menguasai wilayah Surabaya, Tuban, Sunda Kelapa, Malang, Pasuruan, serta Blambangan.

Dengan pencapaian puncak kejayaan tersebut kemudian Kerajaan Demak dikenal dengan kekuatannya pada abad 16. Namun tak lama kemudian ditahun 1946 Sultan Trenggono wafat dalam pertempuran menaklukkan Pasuruan. Kemudian posisinya digantikan oleh Sunan Prawoto yang diiringi kekacauan dalam Kerajaan atas perebutan tahta Demak.

1. Sosial Budaya Di Kerajaan Demak

Masyarakat Demak dikenal dengan kepatuhannya memeluk Agama Islam. Ini erat kaitannya dengan Walisongo yang menjadikan Demak salah satu tempat mereka berkumpul. Sejarah kebudayaan Islam masih tersisa hingga saat ini dengan masih kokohnya bangunan berupa Masjid yang dinamakan Masjid Agung Demak.

Berdirinya Masjid Agung diwilayah demak menjadi ciri tersendiri atas bangunannya. Diketahui bahwa tiang pada Masjid tersebut dibuat dari sisa kayu sampai pada hiasan berupa Kaligrafi yang diukir pada bagian tertentu pada masjid tersebut.

Selain itu masih juga tersisa budaya yang disebut dengan sekaten sebagai tanda bahwa Islam pernah lestari diwilayah Demak. Budaya sekaten ini diterapkan oleh salah satu Walisongo yaitu Sunan Kali Jaga guna menarik masyarakat agar mau memeluk Agama Islam. Budaya ini masih lestari di Surakarta, Cirebon, dan Yogyakarta hingga sekarang.

 

Berbagai Peninggalan Dari Kerajaan Demak

Pada masa kepemimpinan Sultan Trenggono kala itu Kerajaan Demak mulai memperlihatkan kemundurannya. Perebutan kekuasaan mulai terjadi antara Pangeran satu dengan lainnya yang menimbulkan kekacauan masa itu.

Sebagai bukti bahwa pada masanya Kerajaan Demak pernah berjaya dibawah pimpinan para Rajanya, maka beberapa peninggalannya pun masih dirawat hingga saat ini. Berikut beberapa peninggalan dari Kerajaan Demak:

1. Pintu Bledek

Pintu Bledek merupakan salah satu peninggalan yang dikenal dengan nama lain Pintu Petir. Pintu ini dibuat Ki Ageng Selo dari tahun 1466. Menurut sejarahnya Pintu ini dibuat menggunakan sambaran Petir yang kemudian dijadikan Pintu Utama dari Masjid Agung Demak. Hingga kini Pintu tersebut masih tersimpan dimuseum Masjid Agung.

2. Masjid Agung Demak

Adapun peninggalan berikutnya adalah Masjid Agung Demak yang berdiri sejak 1479 Masehi. Sampai saat ini Masjid ini telah berusia sekitar 6 Abad dan masih berdiri kokoh. Dahulunya Masjid ini menjadi pusat pengajaran Agama Isalm di Demak.

Menurut geografis bahwa letak Masjid Agung ini berada di Desa Kuman, Kec Demak Kota, Kab Demak Kota, Prov Jawa Tengah. Arsitektur dari masjid ini sangat kental dengna budaya jawa yang melekat hingga saat ini.

Luas dari Masjid ini adalah 31 x 31 meter dengan serambi berukuran 31 x 15 m dan panjang 35 x 3 m. Serambi yang terbuka ditopang 128 soko yang 4 diantaranya adalah soko guru, yakni penyangga utama dari Masjid Agung Demak. Lalu ada 50 tiang lainnya, 28 tiang penyangga serambi dan tiang keliling sebanyak 16 tiang.

3. Soko Guru (Soko Tatal)

Soko Guru adalah tiang penyangga yang terdapat di Masjid Agung Demak. Tiang ini dibuat dari kayu berdiameter 1 m  sebayak 4 buah tiang yang salah satunya terbuat dari sisa bahan pahatan kayu atau tatal dan kesemua tiang tresebut dibuat oleh Sunan Kali Jaga.

4. Bedug Serta Kentongan

Bedug dan kentongan digunakan sebagai alat untuk mengumpulkan orang-orang di sekitar masjid untuk menentukan masuk waktu salat. Kedua benda ini terletak di Masjid Agung Demak yang menyerupai sepatu kuda saat dipukul, sehingga masyarakat sekitar masjid harus datang untuk beribadah.

5. Kolam Wudhu

Kolam wudhu terletak di pelataran Masjid Agung Demak dan dulunya digunakan sebagai tempat wudhu bagi para peziarah dan santri yang beribadah, namun saat ini kolam tidak lagi digunakan sebagai tempat mengambil wudhu.

6. Makam Sunan Kalijaga

Makam Sunan Kalijaga yang merupakan salah satu dari 9 Wali yang berdakwah keliling wilayah Jawa. Sunan Kalijaga wafat pada 1520 dan dimakamkan di desa Kadilangu, dekat kota Demak. Makam Sunan Kalijogo kini menjadi tujuan wisata populer dari berbagai pelosok nusantara, dan merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Demak.

7. Maksurah

Maksurah Merupakan pahatan prasasti (Kaligrafi Ayat Alqur’an) yang digunakan sebagai penghias dinding bagian dalam Masjid Agung Demak. Maksurah ini dibangun pada masa pemerintahan Arya Purbaningrat yang merupakan pemimpin Demak pada tahun 1866.

8. Dampar Kencana

Sisa Peniggalan dari Kerajaan Demak selanjutnya adalah Dampar Kencana. Merupakan singgasana Sultan Demak yang digunakan sebagai altar di Masjid Agung Demak. Namun, altar ini tidak lagi digunakan dan disimpan di Museum Masjid Agung untuk mencegah kerusakan.

9. Piring Campa

Piring Campa Hingga saat ini ditempatkan di dinding bagian dalam Masjid Agung di Demak sebanyak 65 buah. Sesuai dengan namanya, ini merupakan pemberian dari putri Campa, ibu dari Raden Patah, pendiri pertama dari Kerajaan Demak.

10. Serambi Majapahit

Serambi Masjid Agung Demak sangat indah dengan desain antik yang memiliki makna kuno. Dari sejarah Dinasti Demak, ini memiliki 8 pilar pendopo dari Dinasti Majapahit, namun ketika Dinasti Majapahit jatuh, tidak lagi diurus kemudian Adipati Unus membawa pusaka ini ke Demak yang kini berada di teras atau serambi Masjid Agung Demak.

11. Mihrab

Mihrab atau pengimaman adalah peninggalan dari Dinasti Demak, dengan gambar hewan bertuliskan Condro Sengkolo. Teks Condro Sengkolo ini mengacu pada Sariro Sunyi Kiblating Gusti 1401 Saka atau 1479 M. Hal ini membawa kita pada kesimpulan bahwa pada masa Dinasti Demak Mihrab yang berasal dari budaya Islam dan Jawa.

12. Pawestren

Pawestren merupakan tempat yang memisahkan jamaah sholat dari pria dan wanita. Bangunannya terdiri dari 8 pilar, empat di atas tiga pilar batu dengan pahatan Majapahit. Diyakini bahwa bentuk terbaik pada tahun 1866 Masehi berasal dari zaman Arya Purbaningrat.

13. Surya Majapahit

Sisa Sejarah Kerajaan Demak selanjutnya adalah Surya Majapahit. Adalah ornamen segi delapan yang sangat populer pada masa Majapahit. Beberapa ahli sejarah mengatakan bahwa benda ini merupakan lambang kerajaan Majapahit, dibuat pada tahun 1401 Saka atau pada tahun 1479.

 

Letak Dari Kerajaan Demak

Menurut survei IAIN Walisongo tahun 1974, ada tiga wilayah tempat kerajaan didirikan. Simak penjelasan berikut:

  • Bukti pertama menunjukkan bahwa tidak ada kerajaan atau istana di Demak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Raden Fatah hanya menyebarkan Islam di Demak, dan dia tinggal di rumah pribadi. Juga dengan Masjid Agung, itu hanya dianggap sebagai simbol kerajaan.
  • Bukti lain menunjukkan adanya kata sitihingkil, betengan, jogoloyo dan pungkura. Hal ini menunjukkan bahwa pendakwah Wali Songo berada jauh dari keraton, diyakini berada di sisi timur pelataran.
  • Bukti ketiga mengungkapkan bahwa tempat Kerajaan berada di depan Masjid Agung di Demak. Menyeberangi sungai di antara dua pohon pinang, banyak orang yang percaya bahwa pohon tersebut makam dari Kyai Gunduk.

 

Silsilah Raja Dari Kerajaan Demak

Pada masa pemerintahan Demak terjadi sejumlah perubahan yang dicapai oleh beberapa Raja sehingga perkembangan Demak mulai menonjol sebelum jatuhnya raja terakhir. Berikut ini silsilahnya:

1. Raden Patah

Memerintah sejak tahun 1500 sampai 1518, yang mendirikan Kerajaan Demak, yang sebelum berdirinya Kerajaan Demak dikenal dengan nama Pangeran Jimbun. Setelah berdirinya Kerajaan Demak ia diberi nama Sultan Alam Akbar al Fatah.

Raden Patah membangun Masjid Agung di Demak di jantung kota Demak tahun 1513 ia mengirim Pati Unus dan pasukannya untuk menyerang Portugis di Malaka, meskipun invasi tersebut mendapat dukungan dari Palembang dan Aceh, mereka gagal karena senjatanya tidak dapat mengalahkan Portugis.

2. Pati Unus

memerintah dari tahun 1518 sampai 1521 ketika Raden Patah meninggal. Pati Unus dikenal sebagai pejuang pemberani dan berperang melawan Portugis di Malaka. Dengan keberanian ini ia menerima nama Sabrang Lor, dan juga mengutus Katir untuk menghentikan Portugis di Malaka dan membuat Portugis menderita krisis pangan.

3. Sultan Trenggono

memerintah dari tahun 1521 sampai 1546 menggantikan Pati Unus, karena Pati Unus tidak memiliki anak laki-laki untuk mewarisi tahta. Pada masa pemerintahan Sultan Trenggono, kerajaan Demak mencapai puncak dimana ia dikenal sebagai raja yang bijaksana dan pemberani hingga akhirnya berhasil melebarkan kekuasaannya ke Jawa Timur dan Jawa Barat.

Pada tahun 1522, Sultan Trenggono mengirimkan pasukannya ke Sunda Kelapa di bawah arahan Fatahillah yang berhasil mengusir Portugis dari Sunda Kelapa sehingga Sunda Kelapa diubah menjadi Jayakarta dengan arti kemenangan yang sempurna sehingga sekarang dikenal sebagai Jakarta.

Pada masanya, Sultan Trenggono juga berupaya menyatukan kembali pulau Jawa di bawah Demak dan mengambil sejumlah langkah untuk mewujudkannya, seperti invasi Pasuruan ke Jawa Timur, atau kerajaan Hindu Supit Urang yang dipimpinnya, tidak mewujudkannya karena Sultan Trenggono meninggal.

Sebelumnya, dia menyerang wilayah Cirebon dan Sunda Kelapa dipimpin oleh Fatahillah. Dia juga mengadakan pernikahan politik seperti Pangeran Hadiri yang diatur jodoh untuk putrinya, Adipati Jepara dan Fatahillah, untuk adiknya, sementara Pangeran Pasarehan juga untuk dijodohkan pada putrinya yang kemudian menjadi raja Cirebon, dan Joko Tingkir juga untuk jodoh putrinya, Adipati Pajang.

 

Era Kejayaan Dari Kerajaan Demak

Pada awal abad ke-16, Kerajaan Demak menjadi kekuatan dominan di Jawa dan tidak ada kerajaan yang dapat mengalahkannya. Di bawah kepemimpinan Pati Unus, Demak tertarik menjadikan Demak sebagai kerajaan terbesar di laut. Demak juga diancam oleh Portugis di Malaka, itulah sebabnya ia beberapa kali mengirim tim untuk menyerang Portugis di Malaka.

Di bawah arahan Sultan Trenggana penyebaran Islam menyebar ke Jawa Tengah dan Jawa Timur, kemudian mengusir Portugis dari Sunda Kelapa tahun 1527, Tuban 1517, Madiun 1529, Surabaya dan Pasuruan 1527, Malang 1545 dan Blambangan, kerajaan Hindu terakhir di Jawa Timur dari tahun 1527 sampai 1546.

Trenggana kemudian meninggal pada tahun 1546 ketika ia mengalahkan Pasuruan yang digantikan oleh Sunan Prawoto. Panglima kerajaan Demak, Fatahillah yang berasal dari Pasai, Sumatera.

Sedangkan Maulana Hasanuddin, anak dari Sunan Gunung Jati, diutus Trenggana untuk mengalahkan Banten Girang yang kemudian berhasil. Sunan Kudus saat itu adalah imam Masjid Demak yang juga memimpin penaklukan Majapahit sebelum pindah ke Kudus.

 

Era Keruntuhan Dari Kerajaan Demak

Sepeninggal Sultan Trenggana, ketegangan meletus di antara beberapa anggota Kerajaan Demak. Pangeran Sedo Lepen menggantikan Sultan Trenggana yang sudah meninggal yang merupakan saudara dari Sultan Trenggana.

Pangeran Sedo Lepen dibunuh oleh Pangeran Prawoto dan pertempuran berlanjut hingga akhir perang saudara dan Arya Penangsang, putra Pangeran Sedo Lepen, membunuh Pangeran Prawoto untuk mengambil alih Kerajaan Demak.

Belakangan, Joko Tingkir yang mengepalai Adipati Pajang, serta Ki Ageng Pemaanahan dan Ki Penjawi berhasil mengalahkan Arya Penangsang tahun 1568 dibunuh oleh anak angkat Joko Tingkir. Sutawijaya kemudian memindahkan Kerajaan Demak ke Pajang, sehingga akhirnya kekuasaan Kerajaan Demak pun berakhir.

 

Akhir Kata

Demikianlah penjelasan lengkap tentang Peninggalan Kerajaan Demak. Jangan lupa untuk mengikuti Artikel menarik kami lainnya di https://rumusguru.com/ tentunya dengan rangukuman yang mudah Anda mengerti. Semoga bermanfaat dan sampai jumpa lagi.

 

Artikel Menarik Lainnya:

Peninggalan Kerajaan Demak Rating: 5 Diposkan Oleh: Pembaca