Ami Alhasani Jika menginginkan dunia raihlah dengan ilmu, Jika menginginkan akhirat raihlah dengan ilmu, jika ingin keduanya raihlah dengan ilmu

Perjanjian Linggarjati

2 min read

Perjanjian Linggarjati adalah salah satu perjanjian yang dilakukan oleh pihak Indonesia dengan pihak Belanda dan Inggris menjadi penengah dari peristiwa itu. Disebut dengan perjanjian Linggarjati karena perjanjian ini dilakukan di sebuah desa yang berada di antara Cirebon dengan Kuningan dan berada di kaki gunung Ciremai.

Desa tersebut bernama Linggarjati maka dari itu perjanjian ini disebut dengan perjanjian Linggarjati. Lokasi tersebut dipilih agar lebih netral. Karena pada saat perjanjian tersebut berlangsung, Indonesia menguasai Yogyakarta sedangkah Jakarta dikuasai pihak Belanda.

Tempat yang digunakan untuk melakukan perjanjian tersebut masih dijaga hingga kini dan menjadi sebuah museum yang disebut dengan Museum Linggarjati.

Perjanjian Linggarjati dilaksanakan pada 11 hingga 13 November 1946, sedangkan hasil perjanjian disepakati dan ditandatangani oleh kedua belah pihak pada 15 November 1946 di Jakarta.

Sedangkan perjanjian ini akhirnya secara resmi diratifikasikan di Istana Negara pada 25 Maret 1947, setahun setelah perjanjian Linggarjati dilakukan.

Latar Belakang Perjanjian Linggarjati

Setelah Indonesia mengumkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 2945, Negara ini sebenarnya sudah terlepas dari penjajagan Jepang. Akan tetapi pihak Belandan yang sudah menjajah negeri ini selama lebih dari 3 abad masih belum bisa menerima kenyataan dan ingin menjajah Indonesia kembali.

Mulanya pasukan sekutu dan juga AFNEI datang ke Indonesia pada tanggal 29 September 1945 untuk mengusir Jepang yang telah mengakui kekalahannya pada perang dunia ke 2. Namun ternyata mereka datang bersama dengan NICA yang merupakan kepanjangan dari Netherlands-Indies Civil Administration.

Hal ini akhirnya membuat pemerintah Indonesia curiga dan menganggap jika Belanda ingin kembali menjajah Indonesia hingga pertempuran pun tak terelakkan. Pada 10 November 1945 terjadi pertemputan sengit yang berlangsung di Surabaya, lalu pertempuran Ambarawa, Pertempuran Medan Area, Pertempuran Merah Putih di Manado dan masih banyak yang lainnya.

Pertempuran demi pertempuran yang terjadi tersebut mengakibatkan kedua belah pihak mengalami kerugian yang besar, hingga akhirnya Belanda setuju untuk melakukan kontak diplomasi untuk pertama kalinya dengan Indonesia.

Sedangkan pemerintah Inggris menjadi mediator untuk perjanjian perdamaian yang dilakukan oleh kedua Negara tersebut. Sir Achibald Clark Kerr yang merupakan Diplomat Inggris mengundang Indonesia dan Belanda untuk datang ke Hooge Veluwe guna menyepakati perjanjian perdamaian.

Ternyata pertemuan tersebut gagal dan perdamaian pun tidak disepakati oleh kedua Negara pasalnya Belanda hanya mengakui wilayah Indonesia sebatas Jawa dan Madura saja. Karena perundingan pertama mengalami kegagalan maka Lord Killearn pun turun tangan dengan datang langsung ke Indonesia pada Agustus 1946 untuk menyelesaikan konflik di antara kedua Negara tersebut.

Pertemuan pertama berlangsung pada 7 Oktober 1946 di Konsulat Jenderal Inggris yang berada di Jakarta. Namun sayangnya pertemuan ini terbilang gagal karena hanya bisa berakhir dengan kesepakatan gencatan senjata yang dilakukan oleh kedua belah pihak.

Hingga akhirnya pertemuan lanjutan dilangsungkan pada 11 November 1946, pertemuan inilah yang dikenal dengan Perjanjian Linggarjati.

Tokoh Tokoh yang Berada dalam Perjanjian Linggarjati

Perjanjian Linggarjati dihadiri oleh beberapa tokoh yang berasal dari Indonesia dan Belanda yang sedang berkonflik. Serta tokoh yang berasal dari Inggris yang berperan sebagai mediator.

Dari Pemerintah Indonesia

1.) Sutan Syahrir selaku Ketua

2.) A. K. Gani

3.) Mohammad Roem

4.( Susanto Tirtoprojo

Dari Pemerintah Belanda

1.) Wim Schermerhon selaku Ketua

2.) Max van Pool

3.) H. J. van Mook

4.) F. de Boer.

Pemerintah Inggris

Lord Killearn sebagai penengah atau mediator.

Tak hanya perwakilan dari kedua Negara dan Inggris saja, perjanjian ini juga dihadiri oleh saksi tamu, di antaranya adalah Amir Syarifudin, dr. Leimena, dr. Sudarsono, Ali Budiharjo, Presiden Soekarno, serta Mohammad Hatta.

Setelah itu pada tanggal 25 Maret 1947 Perjanjian Linggarjati ditandatangai secara resmi dan dilakukan sebuah upacara kenegaraan di Istana Negara, Jakarta.

Dampak Perjanjian Linggarjati

Perjanjian ini memberikan dampak yang positif mau pun dampak yang negatif bagi Indonesia dan berikut ini adalah dampak yang dirasakan Indonesia karena adanya Perjanjian Linggarjati.

Dampak Positif yang Dialami oleh Indonesia Setelah Perjanjian Linggarjati

1. Indonesia dianggap lebih kuat di mata dunia.

2. Banyak Negara di dunia telah mengakui kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

3. Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia. Dan juga kekuasaan atas beberapa wilayah, mulai dari Jawa, Madura dan Sumatera.

4. Konflik berakhir dan peperangan berakhir.

Dampak Negatif yang Dialami oleh Indonesia Setelah Perjanjian Linggarjati

1. Belanda hanya mengakui kekuasaan Indonesia pada pulau Jawa, Sumatera dan Madura.

2. Indonesia dipaksa untuk mengikuti dan mengakui jika Negara ini termask dalam persemakmuran yang disebut dengan Indo-Belanda.

3. Perjanjian Linggarjati sebenarnya hanya memberikan waktu bagi Belanda. Karena mereka mulai menyusun kekuatan dan strategi untuk kembali menyerang dan menguasai Indonesia.

4. Indonesia dianggap lemah dalam mempertahankan Republik Indonesia.

5. Perjanjian Linggarjati ditentang oleh beberapa pihak mulai dari PNI, Partai Rakyat Indonesia, Partai Masyumi dan juga Partai Rakyat Jelata.

Nah, itu dia ulasan lengkap mengenai Perjanjian Linggarjati mulai dari latar belakang, tokoh yang terlibat hingga dampak yang dirasakan oleh Indonesia karena perjanjian tersebut.

Artikel Lainnya :

Ami Alhasani Jika menginginkan dunia raihlah dengan ilmu, Jika menginginkan akhirat raihlah dengan ilmu, jika ingin keduanya raihlah dengan ilmu
Perjanjian Linggarjati Rating: 5 Diposkan Oleh: Pembaca