Ami Alhasani Jika menginginkan dunia raihlah dengan ilmu, Jika menginginkan akhirat raihlah dengan ilmu, jika ingin keduanya raihlah dengan ilmu

Perjanjian Renville

2 min read

Perjanjian Renville merupakan sebuah perjanjian yang dilaksanakan oleh dua Negara. Yakni Belanda dan Negara bekas jajahannya, Indonesia. Perjanjian Renville ini sendiri menghasilkan sebuah kesepakatan dan secara resmi ditandatangai pada tanggal 17 Januari 1984. Lokasinya berada di geladak USS Renville yang merupakan sebuah kapal perang Amerika Serikat yang kala itu sedang berlabuh di Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Perjanjian ini dilangsungkan pada 8 Desember 1947. Belgia, Australia serta Amerika Serikat menjadi penengah atau mediator dari Perjanjian Renville yang disebut dengan Komisi Tiga Negara atau KTN untuk menengahi konflik yang terus terjadi antara Belanda dan Indonesia.

KTN sendiri secara resmi didirikan dan diakui oleh PBB ( Perserikatan Bangsa – Bangsa ) yang kala itu cukup resah dengan konflik antara Indonesia dan Belanda yang tak kunjung usai.

Latar Belakang

Belanda melakukan agresi militer dan menyerang Indonesia pada 21 Juli hingga 4 Agustus 1947 meski sebelumnya sudah setuju untuk melakukan gencatan senjata. Sehingga membuat konflik di antara kedua Negara ini menjadi memanas kembali. Belanda sudah dianggap melanggar perjanjian Linggarjati yang sebelumnya sudah dibuat dan disetujui melalui Inggris yang menjadi penengah di antara kedua Negara itu.

Dunia pun mengeluarkan reaksi keras dan mengecam sikap Belanda yang tidak mengikuti perjanjian yang sebelumnya sudah disepakati. Maka Dewan Keamanan PBB akhirnya membuat resolusi untuk melakukan gencatan senjata di antara kedua Negara. Tepatnya pada 6 Agustus 1947, Belanda pun melakukan aksi gencatan senjata yang diperintahkan oleh Gubernur Jenderal Belanda yang bernama Van Mook. Sekaligus untuk mengakhiri aksi Agresi Militer 1 yang dilakukan oleh Belanda pada Indonesia kala itu.

Komisi Tiga Negara pun dibentuk oleh Dewan PBB pada tanggal 25 Agustus yang resah terhadap konflik berkepanjangan dari Indonesia dan Belanda. KKN ini terdiri dari Belgia yang dipilih oleh Belanda, Australia yang dipilih ole Indonesia dan Amerika Serikat yang menjadi penengah dan dipilih oleh kedua Negara yang sedang berkonflik yakni Belanda dan Indonesia.

Konflik semakin memanas sejak 29 Agustus 1947 yang mana Belanda mengumumkan secara resmi mengenai garis Van Mook yang menjadi batas Negara Indonesia. Hal ini membuat wilayah Indonesia menjadi semakin sempit yakni hanya sepertiga dari Pulau Jawa dan Pulau Sumatera saja. Selain itu Belanda juga memblokade agar tidak ada makanan, pakaian hingga persenjataan yang dapat masuk ke Republik Indonesia.

Waktu dan Tempat Perjanjian Renville

Hal tersebut membuat konflik semakin memanas. Sehingga untuk menghindari konflik semakin lama terjadi maka akhirnya KKN memutuskan untuk melakukan perjanjian di kapal USS Renville miliki Amerika Serikat. Yang kala itu sedang berhenti di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara pada 8 Desember. Sedangkan penandatanganan perjanjian ini resmi dilakukan pada 17 Desember 1948 atau satu tahun setelah perjanjian tersebut dilaksanakan.

Maka dari itu, perjanjian ini dikenal dengan nama Perjanjian Renville.

Tokoh Perjanjian Renville

Perjanjian Renville dihadiri oleh beberapa tokoh yang memiliki hubungan dengan konflik kedua Negara. Selain itu ada pula beberapa tokoh yang menjadi penengah atau mediator yang berasal dari Negara yang termasuk dalam KKN.

Berikut ini adalah tokoh yang hadir dalam perjanjian Perjanjian Renville.

1.) Pihak Indonesia

– Amir Syarifuddin

– Ali Sastroamidjojo

– Haji Agus Salim

– Dr. J. Leimena

– Nasrun

– Dr. Coa Tik len

2.) Pihak Belanda

– R. Abdulkadir Wijoyoatmojo

– Mr. H.A.L van Vredenburgh

– Dr.P.J.Koets

– Mr. Dr. Chr. Soumokil

3.) Pihak Mediator

– Frank Graham

– Paul van Zeeland

– Richard Kirby

Isi Perjanjian Renville

Isi Perjanjian Reville meliputi :

  1. Belanda tetap akan berdaulat hingga nanti terbentuk Republik Indonesia Serikat. Atau biasa disebut dengan RIS.
  2. RIS mempunyai kedudukan yang sama dengan Uni Indonesia Belanda.
  3. Sebelum RIS dibentuk, Indonesia bisa menerahkan kekuasaan pada Pemerintahan Federal.
  4. RI ( Republik Indonesia ) menjadi bagian dari RIS.
  5. Setiap enam bulan atau satu tahun akan digelar pemilihan umum untuk membentuk konstitusi RIS.
  6. Semua tentara Indonesia yang masih ada pada daerah pendudukan Belanda harus segera pindah ke wilayah RI.

Nah, itulah isi dari Perjanjian Renville beserta dengan penjelasan lengkapnya, mulai dari latar belakang, tempat terjadinya hingga tokoh yang ada di balik Perjanjian Renville ini.

Artikel Lainnya :

Ami Alhasani Jika menginginkan dunia raihlah dengan ilmu, Jika menginginkan akhirat raihlah dengan ilmu, jika ingin keduanya raihlah dengan ilmu
Perjanjian Renville Rating: 5 Diposkan Oleh: Pembaca