Ilham Zulfikar Bangkit, mulailah melangkah untuk mencapai cita-citamu yang indah dan jangan lupa senangkanlah dirimu !

Proses Pembentukan Mineral

3 min read

Proses Pembentukan Mineral

Setiap mineral memiliki sifat, asosiasi, dan lingkungan geologis yang berbeda, maka kita harus tahu di mana dan bagaimana mineral itu terbentuk. Nah, untuk simaklah pembahasan kami mengenai Materi Makalah Proses Pembentukan Mineral Lengkap di bawah ini.

Proses Pembentukan Mineral

Kita perlu tahu bahwa mineral adalah hasil dari proses alami yang sangat kompleks. Setiap mineral memiliki sifat, asosiasi, dan lingkungan geologis yang berbeda, jadi kita tahu di mana dan bagaimana mineral itu terbentuk. Pada fase reaksi, proses pembentukan mineral atau kristalisasi dibagi menjadi:

  • Nukleasi, yaitu pembentukan inti mineral di mana ukuran inti dapat berubah menjadi besar selama proses pertumbuhan. Inti ini tumbuh besar karena adanya material pokok mineral yang saling terikat.
  • Pertumbuhan & Pembesaran: Proses ini dapat terjadi dalam keadaan yang menguntungkan. Pertumbuhan itu sendiri dimulai dengan meningkatnya lapisan yang tumbuh perlahan sampai kondisi stabil tercapai.

Di alam ada berbagai jenis mineral. Secara umum, mineral dibagi menjadi dua, logam dan mineral non-logam.

Kedua jenis logam muncul dari proses mineralisasi yang dihasilkan dari aktivitas magmatik, mineral ekonomi lainnya, dan proses perubahan, mineral yang berasal dari mineral dan disebabkan oleh faktor-faktor tertentu.

Proses pembentukan mineral melalui perubahan dan mineralisasi tidak terlepas dari beberapa faktor. Efek dari faktor-faktor ini berbeda untuk setiap mineral.

Proses pembentukan mineral oleh M. Bateman dibagi menjadi beberapa proses untuk menghasilkan mineral tertentu. Proses pembentukan mineral meliputi:

1. Proses magmatis

Seperti namanya, proses pembentukan mineral ini terjadi di dapur magma primer sehingga mineral yang terbentuk bersifat ultra-alkali dan kemudian didinginkan dan dibekukan untuk membentuk mineral bijih dan silikat.

Mineral ini memiliki suhu lebih dari 600 derajat Celcius pada suhu tinggi, sehingga dapat mengubah stadium liquido magmatik menjadi mineral logam atau non-logam. Proses pembentukan magmatik itu sendiri dibagi menjadi dua jenis, termasuk:

  • Early magmatis, yang merupakan endapan yang berasal dari proses magmatik langsung dan lebih dikenal sebagai ortomagmatik, di mana 90% kristalisasi magma terjadi. Mineral bijih khusus, selalu dalam kombinasi dengan batu magma plutonik ultrabasa dan basa. Bentuk endapan terbagi menjadi tiga macam cara, yaitu dengan injeksi, segregasi dan disseminated.
  • Late magmatis, mineral ini berasal dari kristal terbentuk dari batuan silikat dan berasal dari sisa-sisa magma, yang sangat kompleks dan memiliki banyak pola dan bervariasi. Sifat late magmatis ini adalah mobilitas tinggi. Pada late magmatis ada istilah Jebakan ore, yang terbentuk setelah menerobos dan bereaksi batuan silikat. Perubahan-perubahan ini disebut perubahan deuterial alteration. Jebakan ore magmatik, yang bergabung dengan batuan beku, menghasilkan berbagai proses diferensiasi dan menjadi beberapa kelompok, yaitu, injeksi cairan residu, pemisahan cairan residu, injeksi cairan tak tembus cahaya, dan pemisahan cairan tak tembus cahaya.

2. Proses Pegmatisme

Proses pembentukan mineral berikutnya adalah tingkat pegmatisme . Larutan magma cair dan gas yang tersisa memiliki suhu sekitar 450 ° C – 600 ° C. Pada saat ini, kumpulan batuan dalam bentuk batuan granit terjadi.

3. Proses Pneumatolisis

Pada tahap ini, suhu mineral mulai turun sekitar 450 ° C hingga 550 ° C, dan akumulasi gas kemudian menghasilkan perangkap pneumatolisis yang hanya menghasilkan residu magma dalam bentuk cair.

Terdapat unsur volatile yang bergerak melalui batuan beku dan batuan di sekitarnya hingga akhirnya mineral tercipta akibat proses volatil dan proses sublimasi batuan yang diterobos. Hasil dari dua proses ini adalah endapan mineral yang disebut mineral pneumatolitis.

4. Proses Hidrotermal

Proses hidrotermal adalah proses pembentukan mineral karena pengaruh suhu atau suhu serta tekanan yang sangat rendah dan adanya larutan magma yang terbentuk sebelumnya.

Bentuk endapan mineral dapat ditemukan sebagai bagian dari proses deposisi hidrotermal yang disebut pengisian rongga.

Pengisian Rongga itu sendiri adalah proses mineralisasi di mana rongga diisi dengan batuan yang non-rongga dan terdiri dari mineral yang telah diendapkan dari larutan bukaan batuan.

5. Proses Replacement

Proses ini juga disebut proses pertukaran metasomatik. Ini adalah proses pembentukan endapan yang berasal dari mineral epigenetik dan didominasi oleh pembentukan endapan hipotermik dan mesotermal, jika proses ini penting dalam kelompok epitermal.

Dalam endapan metasomatik, ada mineral bijih yang telah dibentuk dan dikendalikan oleh unsur sulfida dan didominasi oleh pembentukan endapan mineral.

Baca Juga : Upaya Menanggulangi Pemanasan Global

6. Proses Sedimenter

Proses ini menghasilkan sedimen dari proses penyimpanan beberapa mineral dan sebelumnya telah mengalami pelapukan batu. Hingga akhirnya sedimentasi menumpuk di suatu tempat.

7. Proses Evaporasi

Proses evaporasi adalah proses pembentukan mineral di daerah kering dan panas, sehingga tidak mengherankan bahwa di daerah ini proses penguapan sering terjadi. Akibatnya, mineral yang terlarut dalam air akan tetap ada saat penguapan terjadi.

8. Konsentrasi Residu Mekanik

Dalam fase ini ada endapan sisa yang disebabkan oleh proses pelapukan dan sedimentasi di tempat yang sama. Maka bisa dikatakan, jika endapan tidak bergeser melalui media seperti air atau angin. Proses pelapukan itu sendiri bisa bersifat kimia maupun fisika.

9. Proses Oksidasi dan Supergen Enrichment

Mineral bijih yang berada di dekat permukaan bumi akan lapuk yang disebabkan oleh udara atau rembesan air.

Akibatnya, pelapukan terjadi hingga batu larut dan membentuk padatan masif yang menjadi keropos. Ini disebut Gossam.

Ada mineral primer yang teroksidasi ke permukaan air tanah atau ke zona oksidasi. Mineral oksida sekunder limonit dengan sifat khusus terakumulasi di zona oksidasi.

Selain itu, garam dan asam sulfat larut dalam zona sulfidasi atau di daerah di bawah air tanah, dan mineral sekunder juga telah terbentuk di daerah ini.

Baca Juga : Macam-Macam Iklim di Indonesia

10. Proses Metamorfisme

Ini menghasilkan batuan metamorf dari mineral batuan beku, mineral metamorf dan mineral batuan sedimen.

Dalam proses metamorfosis ini, mineral diubah menjadi mineral baru atau mineral yang sama diproduksi, tetapi memiliki sifat yang berbeda karena beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang baru.

Contoh konversi mineral lama menjadi mineral baru adalah mineral homeblende dalam mineral serpentin, sedangkan konversi mineral lama menjadi mineral sama dengan sifat yang berbeda adalah mineral calcite menjadi mineral calcite kembali akan tetapi dengan sifat yang berbeda.

Apa yang di maksud dengan Proses hidrotermal?

Proses hidrotermal adalah proses pembentukan mineral karena pengaruh suhu atau suhu serta tekanan yang sangat rendah dan adanya larutan magma yang terbentuk sebelumnya.

Apa yang dimaksud dengan Proses Pneumatolisis?

Proses Pneumatolisis. Pada tahap ini, suhu mineral mulai turun sekitar 450 ° C hingga 550 ° C, dan akumulasi gas kemudian menghasilkan perangkap pneumatolisis yang hanya menghasilkan residu magma dalam bentuk cair.

Apa yang di maksud dengan Proses magmatis?

Proses magmatis, seperti namanya, proses pembentukan mineral ini terjadi di dapur magma primer sehingga mineral yang terbentuk bersifat ultra-alkali dan kemudian didinginkan dan dibekukan untuk membentuk mineral bijih dan silikat.

Demikianlah pembahasan kami mengenai Materi Makalah Proses Pembentukan Mineral. Baca juga Manfaat Curah Hujan yang Tinggi Bagi Kehidupan Manusia. Semoga bermanfaat.

Ilham Zulfikar Bangkit, mulailah melangkah untuk mencapai cita-citamu yang indah dan jangan lupa senangkanlah dirimu !
Proses Pembentukan Mineral Rating: 5 Diposkan Oleh: Pembaca